Aahhh…. Aku benar-benar tidak mengerti dengan mu sayang.
Kala hati ini tersakiti, diri ini kau campakan. Kau malah mengumpat. Kau berkata yang macam-macam. Kau tidak mengerti sayang. Tidak. Sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hati dan jiwa ku.
Aku sudah muak dengan perkataan kasar mu. Aku sudah kenyang dengan segala tuntutan mu itu. Tak kau pikirkan kata-kata yang keluar dari mulut mu itu? Menyayat hati siapapun yang mendengar atau membacanya.
“Memang seperti itulah diriku. Ada sebabnya mengapa aku seperti itu.” Ya, itulah pembelaan mu. Lantas, apa kau tidak pikirkan? Haruskah aku mengalah, merendah ketika kau seperti itu? Haruskah selalu? “Aku tidak meminta mu”. Ya, memang tidak. Tapi bukankah kau juga menginginkan aku untuk peka terhadap mu.
Jika kau bisa melihat sayang. Tentu akan banyak luka yang akan terlihat oleh mu. Tentu akan terlihat banyak kekecewaan karena mu. Ada rasa sakit yang tidak sekali atau dua kali kau berikan. Lihat sayang, perhatikan baik-baik. Rendahkan sedikit ego mu. Buka sedikit hati mu yang tertutup oleh amarah.
Masihkah kau tidak sadar juga mengapa aku menjauh dari mu? Tidak memberi kabar. Seperti tidak mempedulikan mu. Masihkah kau ingin mengatakan aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Masihkan aku serendah itu dimata mu? Coba perhatikan sayang, perhatikan baik-baik semua ini. Mengapa aku menjauh saat ini?
Tidakkah kau sadar juga betapa banyak kata-kata yang kau lontarkan itu menusuk hati ku? Bukan aku mengambil hati semua perkataan mu. Hanya saja itu tidak pantas untuk kau lontarkan kepada ku, kepada siapapun itu.
Aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Hey… Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa besar rasa di hati ini. Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa peduli ini sangat nyata pada mu. Ingat ketika kau menolak bantuan yang pernah aku berikan? Ingat ketika kau tidak menjalankan apa yang telah aku beritahu informasinya? Bukan maksud ku untuk selalu ingin diikuti perkataannya. Tapi, itu untuk kebaikan mu sendiri. Untuk mu sayang.
Apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Mengapa terasa begitu rendahnnya aku dimata mu? Dengan kata-kata mu, perlakuan mu sekarang ini. Dimana lagi kata manis dan hal-hal indah yang biasa kita lakukan? Apakah semuanya sekarang telah berubah? Apa semuanya telah berubah karena tertutupi oleh gengsi, rasa egois, amarah, serta kebencian? Tidak dapatkah semuanya merendah? Tidak harus sama seperti dulu sayang. Namun lebih merendah. Sedikit demi sedikit. Merendahkan hati kita masing-masing. Bukan untuk beradu keegoisan seperti sekarang.
Jika boleh, aku ingin mengutip catatan teman ku di facebook.
Seperti ini, “Menghindari dirimu adalah cara terbaik sekaligus menyakitkan. Namun, peduli pada dirimu hanya mendapat pengabaian. Aku ada dibelakangmu.. Selalu.. Namun, aku berusaha untuk mundur. Selangkah demi selangkah setiap kau tidak melihat. Mundur, terus mundur. Sampai akhirnya, aku tidak terlihat lagi….”
Mungkin tidak bisa kau rasakan hati ku. Betapa sedang tersiksanya hati ini, batin ini, pikiran ini, atas kata-kata mu, perlakuan mu, serta pengabaian mu. Entahlah sayang, mungkin kau lupa bahwa kita pernah memiliki masa-masa indah. Bahwa, sebenarnya kita saling mencinta, saling menginginkan….
Sudahlah… Ini titik terakhir untuk ku. Apapun yang aku lakukan, semuanya sudah salah dimata mu. Sudah tidak ada baiknya lagi menurut mu. Semuanya percuma.
Aku tau ada banyak cinta untuk ku. Ada rindu yang terselip ditengah kemarahan mu. “Aku yang paling kau cinta, aku yang paling kau mau. Rahasiakan aku sedalam-dalamnya cintamu..”.
Maaf, aku harus mundur sayang,“Akan ada fase dimana yang paling sabar menjadi muak, yang paling peduli menjadi masa bodo, yang paling setia menjadi pergi. Ketika sabar, peduli dan setianya tidak kau hargai.” menyembuhkan segala luka ini.
Maaf, tak pernah terlintas dibenak ku untuk sakiti cinta mu. Maafkan aku, aku tahu ini sakit untukmu. Namun aku pun begitu. Sakit.
#Sayang, ada hal yang harus kau garis bawahi. Ada hal yang harus tau tau dan kau yakini. Bahwa…. Meskipun aku memutuskan untuk beranjak pergi, tapi bukan berarti tak ada lagi cinta untuk mu. Cinta ini masih ada. Begitupun dengan peduli ini. Dan jangan kau khawatirkan, rindu ini juga. Ya. Masih untuk mu sayang… *kecupkening
Kala hati ini tersakiti, diri ini kau campakan. Kau malah mengumpat. Kau berkata yang macam-macam. Kau tidak mengerti sayang. Tidak. Sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hati dan jiwa ku.
Aku sudah muak dengan perkataan kasar mu. Aku sudah kenyang dengan segala tuntutan mu itu. Tak kau pikirkan kata-kata yang keluar dari mulut mu itu? Menyayat hati siapapun yang mendengar atau membacanya.
“Memang seperti itulah diriku. Ada sebabnya mengapa aku seperti itu.” Ya, itulah pembelaan mu. Lantas, apa kau tidak pikirkan? Haruskah aku mengalah, merendah ketika kau seperti itu? Haruskah selalu? “Aku tidak meminta mu”. Ya, memang tidak. Tapi bukankah kau juga menginginkan aku untuk peka terhadap mu.
Jika kau bisa melihat sayang. Tentu akan banyak luka yang akan terlihat oleh mu. Tentu akan terlihat banyak kekecewaan karena mu. Ada rasa sakit yang tidak sekali atau dua kali kau berikan. Lihat sayang, perhatikan baik-baik. Rendahkan sedikit ego mu. Buka sedikit hati mu yang tertutup oleh amarah.
Masihkah kau tidak sadar juga mengapa aku menjauh dari mu? Tidak memberi kabar. Seperti tidak mempedulikan mu. Masihkah kau ingin mengatakan aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Masihkan aku serendah itu dimata mu? Coba perhatikan sayang, perhatikan baik-baik semua ini. Mengapa aku menjauh saat ini?
Tidakkah kau sadar juga betapa banyak kata-kata yang kau lontarkan itu menusuk hati ku? Bukan aku mengambil hati semua perkataan mu. Hanya saja itu tidak pantas untuk kau lontarkan kepada ku, kepada siapapun itu.
Aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Hey… Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa besar rasa di hati ini. Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa peduli ini sangat nyata pada mu. Ingat ketika kau menolak bantuan yang pernah aku berikan? Ingat ketika kau tidak menjalankan apa yang telah aku beritahu informasinya? Bukan maksud ku untuk selalu ingin diikuti perkataannya. Tapi, itu untuk kebaikan mu sendiri. Untuk mu sayang.
Apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Mengapa terasa begitu rendahnnya aku dimata mu? Dengan kata-kata mu, perlakuan mu sekarang ini. Dimana lagi kata manis dan hal-hal indah yang biasa kita lakukan? Apakah semuanya sekarang telah berubah? Apa semuanya telah berubah karena tertutupi oleh gengsi, rasa egois, amarah, serta kebencian? Tidak dapatkah semuanya merendah? Tidak harus sama seperti dulu sayang. Namun lebih merendah. Sedikit demi sedikit. Merendahkan hati kita masing-masing. Bukan untuk beradu keegoisan seperti sekarang.
Jika boleh, aku ingin mengutip catatan teman ku di facebook.
Seperti ini, “Menghindari dirimu adalah cara terbaik sekaligus menyakitkan. Namun, peduli pada dirimu hanya mendapat pengabaian. Aku ada dibelakangmu.. Selalu.. Namun, aku berusaha untuk mundur. Selangkah demi selangkah setiap kau tidak melihat. Mundur, terus mundur. Sampai akhirnya, aku tidak terlihat lagi….”
Mungkin tidak bisa kau rasakan hati ku. Betapa sedang tersiksanya hati ini, batin ini, pikiran ini, atas kata-kata mu, perlakuan mu, serta pengabaian mu. Entahlah sayang, mungkin kau lupa bahwa kita pernah memiliki masa-masa indah. Bahwa, sebenarnya kita saling mencinta, saling menginginkan….
Sudahlah… Ini titik terakhir untuk ku. Apapun yang aku lakukan, semuanya sudah salah dimata mu. Sudah tidak ada baiknya lagi menurut mu. Semuanya percuma.
Aku tau ada banyak cinta untuk ku. Ada rindu yang terselip ditengah kemarahan mu. “Aku yang paling kau cinta, aku yang paling kau mau. Rahasiakan aku sedalam-dalamnya cintamu..”.
Maaf, aku harus mundur sayang,“Akan ada fase dimana yang paling sabar menjadi muak, yang paling peduli menjadi masa bodo, yang paling setia menjadi pergi. Ketika sabar, peduli dan setianya tidak kau hargai.” menyembuhkan segala luka ini.
Maaf, tak pernah terlintas dibenak ku untuk sakiti cinta mu. Maafkan aku, aku tahu ini sakit untukmu. Namun aku pun begitu. Sakit.
#Sayang, ada hal yang harus kau garis bawahi. Ada hal yang harus tau tau dan kau yakini. Bahwa…. Meskipun aku memutuskan untuk beranjak pergi, tapi bukan berarti tak ada lagi cinta untuk mu. Cinta ini masih ada. Begitupun dengan peduli ini. Dan jangan kau khawatirkan, rindu ini juga. Ya. Masih untuk mu sayang… *kecupkening
Rasanya tidak karuan hingga sulit untuk mendeskripsikannya
BalasHapusmemang rasanya tidak karuan :)
Hapus