Malam ini. 16 Maret 2014. Pukul 22.27 WIB.
Entah ada apa dengan malam ini. Namun rasanya malam ini dada ku
kembali sesak seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini berbeda sayang.
Kali ini diiringi dengan ingatan. Aku mengingatnya dari awal, bagaimana
skenario Tuhan mempertemukan kita. Aku ingat itu sungguh manis, penuh
dengan rasa malu tersipu. Kau taukan sayang, bagaimana lucunya
perkenalan kita dulu? Bagaimana kamu diam-diam memperhatikan aku?
Berusaha untuk mendapatkan perhatian dari ku. Ingat? Iya. Tentu kau
masih mengingatnya.
Namun dari semua itu yang paling utama adalah bagimana kau berusaha
meraih hati ku, cinta ku. Kau tidak tau pasti bagaimana hati ini
terpukau oleh mu. Bagaimana hati ini berubah dari ketakutan akan
kehilangan, menjadi berani menaruh kepercayaan. Kau ubah semua ketakutan
ku menjadi kebahagiaan. Hati yang sebelumnya tersiksa oleh kepergiaan
seseorang. Kau mengubahnya sayang. Perlahan namun pasti. Semua hal yang
kita lalui. Semua percakapan kita. Perhatian kecil mu. Ungkapan rasa
sayang mu. Perlahan namun pasti mengubah hati ku. Perlahan namun pasti
hati ini merapatkan kapalnya ke dermaga mu. Bukan untuk singgah sesat.
Tapi untuk tinggal.
Semua nyaman. Tenang bahagia. Lebih seperti berada di konser musik
band ternama. Lebih seperti berada di dunia fantasi yang penuh dengan
gelak tawa lepas. Seperti tak ada beban. Seperti tak butuh siapapun
lagi. Dan, aku tak pernah seyakin ini. Entah apa namanya, bahagia
sekali. Mungkin tingkatan rasa ini diatas yang namanya cinta.
Tapi tunggu sayang. Perlahan namun pasti semuanya tak hanya soal
kebahagiaan. Ada pertengkaran yang terselip. Mulai ada rasa marah. Mulai
terlihat rasa egois. Mulai terlihat rasa ingin lebih dimengerti. Ya.
Semakin berjalannya waktu, banyak air mata yang terjatuh. Sering kepala
ini pusing karena masalah sepele yang berubah menjadi teka-teki silang
atau pazel, menjadi permainan yang tingkat levelnya semakin sulit.
Semakin kesini, kau semakin mempertanyakan cinta ku. Semakin
meragukan kesetiaan ku. Seperti kau baru satu minggu mengenal ku.
Seperti kau lupa bahwa aku memang sesederhana itu. Mungkin kau lupa
sayang. Ya, mungkin..
Jika digambarkan dari nol persen sampai seratus persen. Maka seperti
itulah cinta ku. Dari nol persen, sampai penuh seratu persen. Atau
mungkin seribu persen. Seratus ribu persen. Entahlah. Namun kau yang
mampu membuat cinta ini menjadi sebanyak itu.
Jangan kau mengelak sayang. Memang karena kau aku bisa mencinta
sampai seperti ini. Memang karena kau hati ku bisa sampai seperti ini.
Karena kau sayang, karena kau. Karena kau aku kembali harus merasakan
takut kehilangan. Karena kau aku kembali harus merasakan sakit hati.
Bahkan berkali-kali. Namun kau tidak sadar sayang. Hati ini memaafkan,
berkali-kali. Yang menurut orang tak mungkin bisa dimaafkan, tapi hati
ini melalukannya sayang. Hati ini memaafkan. Itu karena kamu. Karena
cinta ini kamu. Karena hati ini terpatri kesetiaan pada mu.
Untuk kesekian kalinya hati ini terjatuh begitu sakitnya. Entah
sayang.. Begitu sakit luka yang kau toreh. Kau mungkin tidak
merasakannya. Betapa tersiksanya aku atas cinta yang aku miliki
sekarang. Betapa tersiksanya aku ketika dulu kau terbangkan aku kelangit
tinggi, kau bawa aku ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan, gelat
tawa serta canda, mimpi, harapan, cita-cita. Namun kini kau buang begitu
saja. Kau campakan, tidak membutuhkan aku lagi. Aku? Tidak ada manfaat
lagi bagi mu. Iya. Kau hempaskan aku sekarang. Tidak peduli bagaimana
keadaan ku, bagaimana hati ku. Sehina itukah aku dimata mu sekarang? Aku
hadir bukan untuk apa yang kau harapkan sekarang. Harapan mu kepada ku
telah berubah. Seperti alat yang harus membuat mu menjadi lebih mudah
dalam segala hal. Aku bukan untk itu sayang. Apa kau lupa alasan dulu
kau mengharapkan ku? Aku bukan untuk itu sayang. Bukan.
Aaahh.. Kau tidak akan tau pasti bagaimana remuknya perasaan ku
malam ini. Hancur. Entah apalah namanya. Tapi rasanya membuat ku ingin
berteriak sekencang mungkin. Membuat ku ingin menghilang. Pergi ke
planet di luar angkasa atau bahkan lenyap ditelan bumi. Mengasingkan
diri dari rasa yang bernama cinta.
Kau tidak sadar apa yang telah kau buat pada hati ku sampai seperti
ini.. Serapuh ini hati ku sekarang. Sudah tidak ada peduli mu lagi.
Aahhh sudahlah.. Biar aku nikmati sendiri perasaan yang tersiksa ini.
Lagipula kau tidak akan mencari ku...
#Jika boleh aku berharap sayang. Dapatkah Tuhan mengembalikan
semuanya seperti dulu. Bukan. Saat aku dan kamu tidak saling
mengenal.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar