Kamis, 20 Maret 2014

Tidak Saling Mengenal

Malam ini. 16 Maret 2014. Pukul 22.27 WIB.
Entah ada apa dengan malam ini. Namun rasanya malam ini dada ku kembali sesak seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini berbeda sayang. Kali ini diiringi dengan ingatan. Aku mengingatnya dari awal, bagaimana skenario Tuhan mempertemukan kita. Aku ingat itu sungguh manis, penuh dengan rasa malu tersipu. Kau taukan sayang, bagaimana lucunya perkenalan kita dulu? Bagaimana kamu diam-diam memperhatikan aku? Berusaha untuk mendapatkan perhatian dari ku. Ingat? Iya. Tentu kau masih mengingatnya.
Namun dari semua itu yang paling utama adalah bagimana kau berusaha meraih hati ku, cinta ku. Kau tidak tau pasti bagaimana hati ini terpukau oleh mu. Bagaimana hati ini berubah dari ketakutan akan kehilangan, menjadi berani menaruh kepercayaan. Kau ubah semua ketakutan ku menjadi kebahagiaan. Hati yang sebelumnya tersiksa oleh kepergiaan seseorang. Kau mengubahnya sayang. Perlahan namun pasti. Semua hal yang kita lalui. Semua percakapan kita. Perhatian kecil mu. Ungkapan rasa sayang mu. Perlahan namun pasti mengubah hati ku. Perlahan namun pasti hati ini merapatkan kapalnya ke dermaga mu. Bukan untuk singgah sesat. Tapi untuk tinggal.
Semua nyaman. Tenang bahagia. Lebih seperti berada di konser musik band ternama. Lebih seperti berada di dunia fantasi yang penuh dengan gelak tawa lepas. Seperti tak ada beban. Seperti tak butuh siapapun lagi. Dan, aku tak pernah seyakin ini. Entah apa namanya, bahagia sekali. Mungkin tingkatan rasa ini diatas yang namanya cinta.
Tapi tunggu sayang. Perlahan namun pasti semuanya tak hanya soal kebahagiaan. Ada pertengkaran yang terselip. Mulai ada rasa marah. Mulai terlihat rasa egois. Mulai terlihat rasa ingin lebih dimengerti. Ya. Semakin berjalannya waktu, banyak air mata yang terjatuh. Sering kepala ini pusing karena masalah sepele yang berubah menjadi teka-teki silang atau pazel, menjadi permainan yang tingkat levelnya semakin sulit.
Semakin kesini, kau semakin mempertanyakan cinta ku. Semakin meragukan kesetiaan ku. Seperti kau baru satu minggu mengenal ku. Seperti kau lupa bahwa aku memang sesederhana itu. Mungkin kau lupa sayang. Ya, mungkin..
Jika digambarkan dari nol persen sampai seratus persen. Maka seperti itulah cinta ku. Dari nol persen, sampai penuh seratu persen. Atau mungkin seribu persen. Seratus ribu persen. Entahlah. Namun kau yang mampu membuat cinta ini menjadi sebanyak itu.
Jangan kau mengelak sayang. Memang karena kau aku bisa mencinta sampai seperti ini. Memang karena kau hati ku bisa sampai seperti ini. Karena kau sayang, karena kau. Karena kau aku kembali harus merasakan takut kehilangan. Karena kau aku kembali harus merasakan sakit hati. Bahkan berkali-kali. Namun kau tidak sadar sayang. Hati ini memaafkan, berkali-kali. Yang menurut orang tak mungkin bisa dimaafkan, tapi hati ini melalukannya sayang. Hati ini memaafkan. Itu karena kamu. Karena cinta ini kamu. Karena hati ini terpatri kesetiaan pada mu.

Untuk kesekian kalinya hati ini terjatuh begitu sakitnya. Entah sayang.. Begitu sakit luka yang kau toreh. Kau mungkin tidak merasakannya. Betapa tersiksanya aku atas cinta yang aku miliki sekarang. Betapa tersiksanya aku ketika dulu kau terbangkan aku kelangit tinggi, kau bawa aku ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan, gelat tawa serta canda, mimpi, harapan, cita-cita. Namun kini kau buang begitu saja. Kau campakan, tidak membutuhkan aku lagi. Aku? Tidak ada manfaat lagi bagi mu. Iya. Kau hempaskan aku sekarang. Tidak peduli bagaimana keadaan ku, bagaimana hati ku. Sehina itukah aku dimata mu sekarang? Aku hadir bukan untuk apa yang kau harapkan sekarang. Harapan mu kepada ku telah berubah. Seperti alat yang harus membuat mu menjadi lebih mudah dalam segala hal. Aku bukan untk itu sayang. Apa kau lupa alasan dulu kau mengharapkan ku? Aku bukan untuk itu sayang. Bukan.

Aaahh.. Kau tidak akan tau pasti bagaimana remuknya perasaan ku malam ini. Hancur. Entah apalah namanya. Tapi rasanya membuat ku ingin berteriak sekencang mungkin. Membuat ku ingin menghilang. Pergi ke planet di luar angkasa atau bahkan lenyap ditelan bumi. Mengasingkan diri dari rasa yang bernama cinta.

Kau tidak sadar apa yang telah kau buat pada hati ku sampai seperti ini.. Serapuh ini hati ku sekarang. Sudah tidak ada peduli mu lagi. Aahhh sudahlah.. Biar aku nikmati sendiri perasaan yang tersiksa ini. Lagipula kau tidak akan mencari ku...



#Jika boleh aku berharap sayang. Dapatkah Tuhan mengembalikan semuanya seperti dulu. Bukan. Saat aku dan kamu tidak saling mengenal.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar