Kamis, 09 Juni 2016

I'll Find Someone Like You

Sudah lama sekali blog ini tidak saya buka. Bahkan saya sudah lupa setiap kejadian yang saya tuliskan di sini. Ya. Saya kembali membaca beberapa tulisan yang menjijikan itu. Memang benar, waktu mendewasakan setiap pribadi. Dan saya percaya, hari demi hari kita akan semakin dewasa. 

Bukan hanya itu, saya juga agak sedikit kaget lantaran ternyata masih ada pengunjung di blog ini. Tapi saya mohon maaf, ada beberapa post yang akan saya hapus. 

Terlalu lama rasanya tidak menulis lagi. Rasanya sibuk dengan hal yang membuat saya berubah. Banyak hal yang membuat pikiran saya berubah menjadi realistis tentang cinta. Banyak hal yang membuat saya akhirnya malu, bagaimana bodohnya atau labilnya saya dulu dalam menghadapi cinta. Tapi itu wajar, mengingat umur yang masih muda, dan pikiran pun tidak sedewasa sekarang. 

Bahkan orang-orang yang menjadi bagian dalam setiap post yang saya tuliskan, mereka sudah menjalani kehidupan masing-masing. Saya sudah lupa bagaimana rasa sakitnya, bagaimana kisah dengan mereka. Yang saya ingat, saya dan mereka sudah berada dalam jalan hidup masing-masing. 

Ada yang sudah menikah. Iya. Saya diundang untuk menghadiri pernikahannya. Memang awalnya ada perasaan untuk tidak menghadiri pernikahan tersebut. Bukan karena masih ada perasaan atau ada hal lain yang masih mengganjal dalam kisah kami terdahulu. Tapi, ya, karena ada sedikit perasaan dimana.. "Oh.. Dia menikah?". Just it.
Akhirnya pun saya putuskan untuk datang. Tamu pertama, ya, nomor satu. Saya tidak memikirkan apa-apa. Hanya berjalan menuju pengantin. Bersalam dengan orang tuanya. Ini bukan bagian canggung. Hanya saja mereka lupa akan saya. Bertahun-tahun semenjak kami memutuskan untuk menjauh, baik dia dan saya tidak pernah mengunjungin rumah masing-masing. Hanya saya dan dia pernah bertemu dalam acara buka puasa yang diadakan untuk salah satu perkelompokan.
Ingatan tentang saya ternyata begitu terlampau, sehingga mereka perlu agak berusaha mengingat saya. Ya, lagi-lagi didukung karena perubahan yang pastinya terjadi pada diri setiap orang. Tapi saya bersyukur, setelah mereka berhasil mengingat saya, kehangatan mereka masih tetap seperti dulu. Mereka meminta saya untuk kembali mengunjungi mereka kapan pun. Bermalam seperti dulu. Maklum, rumah saya dan dia cukup jauh, jadi baik dia dan saya terkadang bermalam ditempat kami masing-masing. Eit! Tidak negatif lho ya! :D 

Pasti kalian bertanya, dengan siapa saya datang kesana? Tapi maaf, rasaya jawaban saya akan membuat kalian kecewa. Saya datang dengan ayah saya. Beliau ingin hadir. Saya tidak mengajaknya, tapi dia menawarkan diri. Saya juga tidak menolaknya lantaran saya juga tahu kalau ayah pernah dekat dengannya. Pacar? Saya memang punya pacar saat itu. Tapi kami baru satau atau dua minggu. Saya tidak ingin mengajaknnya lantaran saya tidak ingin kedatangan saya dan pacar saya ini seperti ingin menunjukan kalau saya juga sudah mempunyai kehidupan sendiri. Lebih dari itu, ini seperti kembali ke orang-orang baik nan hangat, dan saya tidak ingin membawa yang baru ke orang-orang ini. 

Tidak ada perasaan apa-apa saat menghadiri pesta itu selain perasaan lega. Iya, lega. Saya berhasil menghadapi hal ini. 

Tidak ada terjadi apa-apa saat kami bertemu di pelaminan. Saya bertemu dengan pendampingnya terlebih dahulu, setelah itu dia. Kami berjabat tangan, saya mengucapkan selamat untuk sejenak. Ya. Saya berhasil menatap matanya dengan ucapan selamat. Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu. Sedangkan saya, lega. Saya bisa melakukan hal itu dengan sempurna. 

Tidak cukup sampai di situ. Saya yang suka take pictures memang sudah mempersiapkan kamera untuk mengabadikan momentnya. Tidak lupa, kami juga berfoto bersama. Saya, ayah, dia bersama pasangannya, dan juga dengan ayahnya. 

Take pictures. Sedikit merasakan bahwa saya benar-benar ada di dalam pesta ini dengan dia yang sedang berada di pelaminan bersama orang lain. Bahkan tidak lama ada beberapa temannya yang saya yakin mereka tahu bahwa kami pernah sangat sedekat itu. Tapi saya tidak mempedulikan mereka. Saya ingin menikmati pesta itu. Mengabadikan setiap moment yang bisa saya ambil.

Foto demi foto yang saya ambil rasanya semakin tak karuan. Seperti tidak ada passion di dalamnya dan aku ingin sekali meninggalkan tempat itu segera. Rasanya foto-foto ini memberikan alasan bahwa aku tidak bisa berlama-lama di situ, selain sebagai tamu yang harus pulang. 
Ayah juga kebetulan mengajak pulang setelah kami menikmati makanan yang disuguhkan. 

Pamit. 
Saya pergi meninggalkan dia dengan kehidupan yang baru. Setidaknya dia tahu bahwa saya sudah tidak memulu tentang menghindar atau bahkan tidak siap dengan hal ini. 



Selamat menempuh hidup baru..
Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu.....