Sulit rasanya menjelaskan apa yang kini membelenggu di hati dan pikiran.
Semuanya
bercampur membentuk gradasi yang tak karuan. Andai saja ketika apa yang
diungkapkan selalu dapat dimengerti oleh hati manusia. Mungkin tak ada
rasa kegalauan yang berkecamuk..
Waktu yang kini tidak dapat lagi bisa diputar.
Pertanyaan
silih berganti berdatangan. Mengapa dia hadir di hidup ku? Mengapa
lagi, lagi dan lagi. Mengapa lagi hanya untuk sebuah pembelajaran?
Pertemuan yang awalnya menimbulkan pengharapan, namun kini berubah, berganti menjadi sebuah ketakutan.
Mengapa hati sulit sekali untuk ditebak? Mengapa hati sulit sekali untuk mengerti?
Rasanya perpisahan sedang berdiri diujung sana. Melihat kita. Menanti kita.
Rasanya baru kemarin aku mengenal mu. Membuka hati dan hidup ku untuk mu. Rasanya terlalu cepat untuk aku merasakan semua ini.
Perasaan
yang tadinya berbeda. Membuat waktu semakin sering mempertemukan kita.
Pertemuan-pertemuan yang tak pernah aku bayangkan. Sungguh rasanya tak
percaya ketika itu aku berkata, "Aku takut, nantinya aku kehilangan
kamu. Aku takut kehilangan lagi.". Namun entah, rasanya waktu terlalu
cepat untuk mengubah perasaan ku.
Aku berusaha mempercayai setiap
candaan mu, perhatian mu, sikap mu kepada ku. Seperti terselip bahwa di
balik itu semua ada sesuatu yang rasanya.. Aaahhh seperti itulah.
Kamu
seperti kebahagiaan baru yang Tuhan kirimkan. Namun sekali lagi, aku
takut. Aku diliputi oleh rasa takut bahwa ini hanya akan menjadi sebuah
pembelajaran. Bahwa ini hanya akan menjadi kenangan-kenangan yang suatu
saat nanti mengusik dan membuat sesak di dada.
Ini bukan tentang penyesalan atau menyalahkan.
Hanya
saja, semuanya seperti sulit untuk ku tarik kembali. Kamu pernah
menjadi sebab tawa dan senyum ku. Aku semakin dibuat percaya oleh semua
ini. Semua keadaan yang menjerat kita.
Aku percaya kali ini
kehilangan tidak mampir dalam kisah kita. Aku percaya bahwa, semuanya
akan tetap sampai nanti. Namun aku tak menampik bahwa di depan sana ada
ujian yang nantinya akan menguras air mata, menyesakkan hati. Membunuh
rasa. Dan bisa saja, ujian itu membuat penyesalan yang terlintas di hati
kita.
Aku tak pernah punya hak untuk meminta mu terus ada di
hidup ku. Bukan hak ku untuk menghentikan langkah mu ketika nanti kamu
ingin beranjak pergi dari hidup ku.
Aku tau, kita akan tetap menjadi sebuah kenangan nantinya.
Namun,
apakah nanti akan tetap sedekat ini? Apakah nanti waktu tega membiarkan
semuanya terputus komunikasi? Aku benar-benar takut akan perpisahan.
Perpisahan yang nantinya membuat aku hanya bisa melihat mu, dan pastinya
perasaan serta kenangan itu muncul begitu saja. Pasti. Nanti akan
terasa.
Rongga dada serasa semakin sempit ketika otak ini
berpikir bahwa pada akhirnya semua ini pun harus berakhir. Bahwa pada
akhirnya, aku yang mengangkat kaki dari cerita ini. Entahlah.. Apa
namanya. Hanya saja begitu menyesakkan dada. Menyempitkan otak ku yang
membuatnya sulit berpikir.
Dapatkah kamu bayangkan. Ketika suatu
hari nanti ada candaan yang menghilang. Ada perhatian-perhatian kecil
yang nantinya perlahan tidak hadir lagi.
Dapatkah kamu bayangkan, bahwa semua ini perlahan akan memudar.
Sesungguhnya ini bukan salah siapapun. Bukan salah cinta ku atau cinta mu.
Tak
ada yang salah dari rasa cinta ku. Namun, kamu juga pasti merasakan
kegelisahan akan takut kehilangan. Ya, aku hanya diliputi oleh rasa
takut. Bukan cinta ku yang salah. Bukan.
Jika saja aku bisa
meminta. Bisakah ketika waktu memutuskan untuk kita berakhir, kita akan
baik-baik saja? Bisakah waktu menjamin bahwa nantinya tak akan ada
perasaan cemburu yang hadir kala kita telah memiliki satu sama lain?
Bisakan kita tertawa bersama, seperti tak ada rasa beban perasaan bahwa
kamu pernah aku miliki?
Bisakah apa yang aku khawatirkan kini, semuanya takkan terjadi nanti?
Mungkin
nantinya tak ada lagi kamu yang memenuhi inbox di handphone ku. Tak ada
kamu yang aktif dalam setiap saat dalam setiap hari ku. Bukan masalah
besar memang, dan tentu saja aku masih tetap bisa menjalankan kehidupan
ku nantinya. Tapi, kamu tentu tau. Semuanya akan terasa ada yang hilang.
Percaya atau tidak, kamupun akan sedikit disulitkan oleh sang waktu
nantinya.
Aku yakin, suatu saat kamu pun akan merindukan apa yang aku rindukan. Ketika jam berganti hari, dan semuanya berputar.
Jujur,
aku hanya ingin kesetiaan menemani hidup ku. Kamu tetap disini, meski
bukan milik ku. Tetap disini, bersama ku, apapun yang terjadi nanti. Aku
ingin kita baik-baik saja apapun keadaan kita nantinya.Tapi, entahlah,
aku bukan Tuhan yang bisa tau apa yang terjadi nanti, lalu menghendaki
apa yang aku inginkan.
Aku hanya bisa mempersiapkan diri, jikalau tiba-tiba waktu memisahkan kita.
Tak
banyak yang aku bisa lakukan, selain mengikhlaskan. Aku harus belajar
tak peduli. Aku juga harus belajar memaafkan, juga merelakan.
Rabu, 24 April 2013
Selasa, 02 April 2013
Terlalu Cepat
Rasanya terlalu cepat semua ini terjadi.
Kamu yang biasa mengisi setiap saat dalam setiap hari ku, perlahan pasti akan menghilang terbawa oleh sang waktu. Kamu yang setiap malam mengirimkan kata cinta selagi aku tertidur pulasnya, dan saat pagi menyapa. Aku hanya tersenyum bahagia, bersyukur atas cinta yang Tuhan berikan lewat diri mu. Indah, begitu indahnya...
Ketika dulu sebelum cinta ini semakin hari semakin terasa meluap di hati, semuanya terasa biasa saja. Aku tak pernah takut akan kehilanga kamu. Namun, waktu berkehendak lain.
Dia menaburkan benih-benih cinta di setiap pertemuan kita. Cinta itu tumbuh tanpa kita sadar.
Seiring waktu, aku mulai takut akan kehilangan mu. Dan benar saja, ketakutan ku terjawab. Dia sudah diambang pintu. Datang di hadapan ku. Tuhan, aku harus apa? Harus bagaimana untuk mempertahankan kebersamaan ini?
Aku belum siap jika kau harus mengambil kebersamaan ini. Tuhan, mengapa akhirnya harus selalu seperti ini? Kapankah kau hadirkan orang yang akan tetap bersama ku sampai mati? Kapan kau berhenti untuk mengirimkan seseorang yang hanya akan menjadi bahan pembelajaran untuk hidup ku ini? Apa aku belum cukup pantas untuk benar-benar dicintai dan dijaga oleh orang yang mencinta ku?
Kau hadirkan dia untuk ku, membawa cinta, kebahagiaan, air mata...
Darinya aku tak hanya mengenal kita, tapi aku mengenal semuanya. Persahabatan, persaudaraan, pertemanan. Darinya pula kau menghadirkan keluarga baru untuk ku, teman baru untuk ku.
Sekarang dan sampai nanti, ketika aku dan dia benar-benar terlupakan oleh waktu dan di ingatkan oleh orang-orang disekeliling kita. Apakah aku sanggup untuk mengingatnya? Apakah aku sanggup ketika kebersamaan itu sekejap terkuak oleh nostalgia orang-orang itu nantinya?
Mungkin dia bisa, Tuhan. Dia bisa untuk tersenyum dan tertawa ketika kebahagiaan itu sekejap terkuat tanpa ada rasa miris di hatinya. Tanpa ada sesuatu yang mendesak di mata, berusaha ingin keluar.
Apa aku terlalu mencintainya?
Hingga aku harus tersiksa oleh pikiran yang tak pernah berhenti memikirkannya. Memang berusaha memikirkannya sama saja dengan terus mengingatnya. Tapi ketika aku berusaha untuk membiasakan diri tanpanya itu terasa sulit.
Kau menghadirkan dia disetiap saat dalam hari ku, bukan? Itulah yang membuat ku sulit. Mempertimbangkan perasaannya setiap aku ingin melakukan sesuatu. Tuhan, mengapa ini terjadi?
Sudah sampai disini sajakah semua tentang kita? Apa masih ada lagi cerita yang Kau tuliskan untuk kita?
Aku pesan kepada Mu, apapun itu yang sedang Kau rencaranakan untuk kita bedua. Tulislah cerita yang baik aku dan dia tidak ada yang akan tersakiti lagi.. :)
Kamu yang biasa mengisi setiap saat dalam setiap hari ku, perlahan pasti akan menghilang terbawa oleh sang waktu. Kamu yang setiap malam mengirimkan kata cinta selagi aku tertidur pulasnya, dan saat pagi menyapa. Aku hanya tersenyum bahagia, bersyukur atas cinta yang Tuhan berikan lewat diri mu. Indah, begitu indahnya...
Ketika dulu sebelum cinta ini semakin hari semakin terasa meluap di hati, semuanya terasa biasa saja. Aku tak pernah takut akan kehilanga kamu. Namun, waktu berkehendak lain.
Dia menaburkan benih-benih cinta di setiap pertemuan kita. Cinta itu tumbuh tanpa kita sadar.
Seiring waktu, aku mulai takut akan kehilangan mu. Dan benar saja, ketakutan ku terjawab. Dia sudah diambang pintu. Datang di hadapan ku. Tuhan, aku harus apa? Harus bagaimana untuk mempertahankan kebersamaan ini?
Aku belum siap jika kau harus mengambil kebersamaan ini. Tuhan, mengapa akhirnya harus selalu seperti ini? Kapankah kau hadirkan orang yang akan tetap bersama ku sampai mati? Kapan kau berhenti untuk mengirimkan seseorang yang hanya akan menjadi bahan pembelajaran untuk hidup ku ini? Apa aku belum cukup pantas untuk benar-benar dicintai dan dijaga oleh orang yang mencinta ku?
Kau hadirkan dia untuk ku, membawa cinta, kebahagiaan, air mata...
Darinya aku tak hanya mengenal kita, tapi aku mengenal semuanya. Persahabatan, persaudaraan, pertemanan. Darinya pula kau menghadirkan keluarga baru untuk ku, teman baru untuk ku.
Sekarang dan sampai nanti, ketika aku dan dia benar-benar terlupakan oleh waktu dan di ingatkan oleh orang-orang disekeliling kita. Apakah aku sanggup untuk mengingatnya? Apakah aku sanggup ketika kebersamaan itu sekejap terkuak oleh nostalgia orang-orang itu nantinya?
Mungkin dia bisa, Tuhan. Dia bisa untuk tersenyum dan tertawa ketika kebahagiaan itu sekejap terkuat tanpa ada rasa miris di hatinya. Tanpa ada sesuatu yang mendesak di mata, berusaha ingin keluar.
Apa aku terlalu mencintainya?
Hingga aku harus tersiksa oleh pikiran yang tak pernah berhenti memikirkannya. Memang berusaha memikirkannya sama saja dengan terus mengingatnya. Tapi ketika aku berusaha untuk membiasakan diri tanpanya itu terasa sulit.
Kau menghadirkan dia disetiap saat dalam hari ku, bukan? Itulah yang membuat ku sulit. Mempertimbangkan perasaannya setiap aku ingin melakukan sesuatu. Tuhan, mengapa ini terjadi?
Sudah sampai disini sajakah semua tentang kita? Apa masih ada lagi cerita yang Kau tuliskan untuk kita?
Aku pesan kepada Mu, apapun itu yang sedang Kau rencaranakan untuk kita bedua. Tulislah cerita yang baik aku dan dia tidak ada yang akan tersakiti lagi.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)