Selasa, 01 April 2014

Efek Mati Lampu

Sayang... Malam ini, aku bukan hanya diselimuti oleh dinginnya hujan yang baru saja mengguyur Jakarta.tapi juga diselimuti oleh kegelapan. Bukan hanya karena kegelapan malam, atau bukan kerana saat ini sedang mati lampu di daerah rumah ku. Tapi rasanya malam ku kali ini lebih pekat. Bukan sekedar gelapnya malam dan gelap karena mati lampu. Tapi karena ada sinar yang perlahan mulai redup. Ya. Mungkin tanpa mati pun malam ini tetap akan hitam pekat.
Sayang, kemarilah, rasakan betapa gelapnya malam ku semenjak kita memutuskan untuk saling beradu keegoisan. Kemarilah, rasakan betapa bukan hanya gelapnya malam tapi juga dinginnya udara yang menusuk.
Apa disana malam mu juga sama seperti malam ku? Apa kabar mu sayang? Dapatkah kita melewati semua ini? Akankah kita sanggup mengurung rasa cinta yang sebenarnya hanya tertutup oleh kesombongan hati ini untuk mengungkapkan, untuk memberanikan diri mengatakan bahwa kita saling menginginkan? Bisakah rasa ini menahan tersiksanya perasaan yang saling mencinta? Mampukah kita menghadapinya sayang? Atau malah kita meronta, mengamuk jiwa, bahwa sebenarnya kita tak sanggup mengingkari perasaan yang ada?

Sepertinya kita lupa sayang. Bahwa malam yang saat ini begitu gelap, dulunya pernah menjadi malam yang indah. Penuh dengan bintang dan bulan yang mempesona. Bahwa dulu malam pernah tidak sepekat ini. Bahwa dulu malam pernah mendekatkan kita kala siang menjauhkan kita lewat kesibukan.
Malam kita pernah indah sayang, dan itu bukan satu atau dua kali saja. Indah bukan hanya kita berada dalam kedekatan bersampingan berdua, tapi juga kerena jarak serta ruang diantara kita.

Mungkinkah malam ku akan terus sepekat ini sayang? Tanpa mu.
Meski nantinya kau takkan pernah kembali lagi, apakah akan terus sepekat ini? Atau meski nanti ada yang menghampiri ku, apakah akan sepekat ini? Dan meski nanti ternyata kau sudah pindah ke langit lain, dan itu bukan aku lagi. Akahkan malam ku akan tetap ku biarkan sepekat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar