Sayang... Malam ini, aku bukan hanya diselimuti oleh dinginnya hujan
yang baru saja mengguyur Jakarta.tapi juga diselimuti oleh kegelapan.
Bukan hanya karena kegelapan malam, atau bukan kerana saat ini sedang
mati lampu di daerah rumah ku. Tapi rasanya malam ku kali ini lebih
pekat. Bukan sekedar gelapnya malam dan gelap karena mati lampu. Tapi
karena ada sinar yang perlahan mulai redup. Ya. Mungkin tanpa mati pun
malam ini tetap akan hitam pekat.
Sayang, kemarilah, rasakan
betapa gelapnya malam ku semenjak kita memutuskan untuk saling beradu
keegoisan. Kemarilah, rasakan betapa bukan hanya gelapnya malam tapi
juga dinginnya udara yang menusuk.
Apa disana malam mu juga sama
seperti malam ku? Apa kabar mu sayang? Dapatkah kita melewati semua ini?
Akankah kita sanggup mengurung rasa cinta yang sebenarnya hanya
tertutup oleh kesombongan hati ini untuk mengungkapkan, untuk
memberanikan diri mengatakan bahwa kita saling menginginkan? Bisakah
rasa ini menahan tersiksanya perasaan yang saling mencinta? Mampukah
kita menghadapinya sayang? Atau malah kita meronta, mengamuk jiwa, bahwa
sebenarnya kita tak sanggup mengingkari perasaan yang ada?
Sepertinya
kita lupa sayang. Bahwa malam yang saat ini begitu gelap, dulunya
pernah menjadi malam yang indah. Penuh dengan bintang dan bulan yang
mempesona. Bahwa dulu malam pernah tidak sepekat ini. Bahwa dulu malam
pernah mendekatkan kita kala siang menjauhkan kita lewat kesibukan.
Malam
kita pernah indah sayang, dan itu bukan satu atau dua kali saja. Indah
bukan hanya kita berada dalam kedekatan bersampingan berdua, tapi juga
kerena jarak serta ruang diantara kita.
Mungkinkah malam ku akan terus sepekat ini sayang? Tanpa mu.
Meski
nantinya kau takkan pernah kembali lagi, apakah akan terus sepekat ini?
Atau meski nanti ada yang menghampiri ku, apakah akan sepekat ini? Dan
meski nanti ternyata kau sudah pindah ke langit lain, dan itu bukan aku
lagi. Akahkan malam ku akan tetap ku biarkan sepekat ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar