Selasa, 01 April 2014

Pasto - Jujur Aku Tak Sanggup

“ Tuhan tolonglah aku, kembalikan dia kedalam peluk ku karena ku tak bisa mengganti dirinya. Ku akui jujur aku tak sanggup, sungguh aku tak bisa…. ”

Sayang..Andai saat ini kau disini. Tepat disamping ku. Aku ingin sekali bersandar dipundak mu. Ya. Seperti biasa. Melepas penat di hati ku. Aku ingin menceritakan kepada mu sayang betapa beberapa hari belakang ini terasa cukup berat, cukupsulit aku rasa.
Jika kau melihat ke dalam mata ku, melihat bagaimana hati ku saat ini. Apakah ini juga yang kau rasakan sayang? Lalu apakah kau berdoa, meminta hal yang sama seperti apa yang aku minta pada Tuhan?
Tak ada satu hari pun otak ini berhenti mengulang ingatan-ingatan indah itu. Tak ada satu hari pun hati ini terasa remuk, seperti diremas. Pagi selalu mengingatkanku bahwa aku selalu memberi sapaan dan semangat. Siang pun begitu. Mengingatkanku bahwa aku pernah mengingatkan waktu zuhur dan jam makan siang telah tiba.Tak terlewat malam sayang. Malam pun lebih tega. Betapa gelapnya malam selalu hangat dengan kalimat pengantar tidur. Tapi itu dulu sayang, sebelum beberapa hari belakangan ini.
Sayang… Begitu beratnya yang aku rasakan, sampai terkadang air mata ini terjatuh dengan sendirinya. Ya. Ditengah kesendirian yang aku rasa. Terkadang hal ini sungguh menyesakan dada ku sayang. Tiba-tiba air mata ini menetes, bersamaan denganingatan indah itu. Sejenak waktu terasa berhenti. Apakah ini? Aahh… Aku kembali merindu.
Entah peran apa yang saat ini sedang kita perankan sayang. Cerita apa yang selanjutnya akan terjadi? Aku tak mengerti. Mengapa kita diliputi dengan rasa gengsi?
Aku tak sanggup, tak bisa… Apa itu juga yang kau rasakan? Rasanya ingin menangis darah. Merobek jiwa yang berkecamuk. Rasanya ingin menghilang, lenyap tanpa kabar. Seberat itu yang terasa. Lebay? Tidak sayang. Ini yang aku rasakan. Memang tak bisa sama persis dengan apa yang kau rasakan. Tapi aku yakin. Disana kau juga merasakan hal yang sama.
Hanya saja saat ini kita sedang berbohong pada dunia. Kita sedang menunjukan apa yang dunia ingin lihat.

Aku bisa menggambarkan bagaimana indahnya diri mu, bagaimana indahnya rasa cinta dengan banyak rangkaian kata. Tapi tidak untuk kali ini sayang. Aku mati kata. Tak dapat banyak yang bisa aku gambarkan bagaimana hati ini tersiksa. Bagaimana malam menyiksa ku dengan ingatan-ingatakan akan mu. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana remuknya hati ku saat ini.

Tak ada satu hari pun tanpa berharap, cinta ini akan bisa lebih baik lagi…
Bahkan terselip harapan yang mungkin buat orang lain sudah tidak pantas aku harapkan lagi.



Aku rindu sayang.
Peluklah tubuh yang lemah ini. Biarkanlah kepala ini bersandar dengan segala kepenatan didalamnya. Usaplah setiap kegelisahan di hati ini dengan sentuhan lembut dipipiku…

Efek Mati Lampu

Sayang... Malam ini, aku bukan hanya diselimuti oleh dinginnya hujan yang baru saja mengguyur Jakarta.tapi juga diselimuti oleh kegelapan. Bukan hanya karena kegelapan malam, atau bukan kerana saat ini sedang mati lampu di daerah rumah ku. Tapi rasanya malam ku kali ini lebih pekat. Bukan sekedar gelapnya malam dan gelap karena mati lampu. Tapi karena ada sinar yang perlahan mulai redup. Ya. Mungkin tanpa mati pun malam ini tetap akan hitam pekat.
Sayang, kemarilah, rasakan betapa gelapnya malam ku semenjak kita memutuskan untuk saling beradu keegoisan. Kemarilah, rasakan betapa bukan hanya gelapnya malam tapi juga dinginnya udara yang menusuk.
Apa disana malam mu juga sama seperti malam ku? Apa kabar mu sayang? Dapatkah kita melewati semua ini? Akankah kita sanggup mengurung rasa cinta yang sebenarnya hanya tertutup oleh kesombongan hati ini untuk mengungkapkan, untuk memberanikan diri mengatakan bahwa kita saling menginginkan? Bisakah rasa ini menahan tersiksanya perasaan yang saling mencinta? Mampukah kita menghadapinya sayang? Atau malah kita meronta, mengamuk jiwa, bahwa sebenarnya kita tak sanggup mengingkari perasaan yang ada?

Sepertinya kita lupa sayang. Bahwa malam yang saat ini begitu gelap, dulunya pernah menjadi malam yang indah. Penuh dengan bintang dan bulan yang mempesona. Bahwa dulu malam pernah tidak sepekat ini. Bahwa dulu malam pernah mendekatkan kita kala siang menjauhkan kita lewat kesibukan.
Malam kita pernah indah sayang, dan itu bukan satu atau dua kali saja. Indah bukan hanya kita berada dalam kedekatan bersampingan berdua, tapi juga kerena jarak serta ruang diantara kita.

Mungkinkah malam ku akan terus sepekat ini sayang? Tanpa mu.
Meski nantinya kau takkan pernah kembali lagi, apakah akan terus sepekat ini? Atau meski nanti ada yang menghampiri ku, apakah akan sepekat ini? Dan meski nanti ternyata kau sudah pindah ke langit lain, dan itu bukan aku lagi. Akahkan malam ku akan tetap ku biarkan sepekat ini?