Kamis, 20 Maret 2014

Aku Pergi

Aahhh…. Aku benar-benar tidak mengerti dengan mu sayang.
Kala hati ini tersakiti, diri ini kau campakan. Kau malah mengumpat. Kau berkata yang macam-macam. Kau tidak mengerti sayang. Tidak. Sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hati dan jiwa ku.
Aku sudah muak dengan perkataan kasar mu. Aku sudah kenyang dengan segala tuntutan mu itu. Tak kau pikirkan kata-kata yang keluar dari mulut mu itu? Menyayat hati siapapun yang mendengar atau membacanya.
“Memang seperti itulah diriku. Ada sebabnya mengapa aku seperti itu.” Ya, itulah pembelaan mu. Lantas, apa kau tidak pikirkan? Haruskah aku mengalah, merendah ketika kau seperti itu? Haruskah selalu? “Aku tidak meminta mu”. Ya, memang tidak. Tapi bukankah kau juga menginginkan aku untuk peka terhadap mu.
Jika kau bisa melihat sayang. Tentu akan banyak luka yang akan terlihat oleh mu. Tentu akan terlihat banyak kekecewaan karena mu. Ada rasa sakit yang tidak sekali atau dua kali kau berikan. Lihat sayang, perhatikan baik-baik. Rendahkan sedikit ego mu. Buka sedikit hati mu yang tertutup oleh amarah.
Masihkah kau tidak sadar juga mengapa aku menjauh dari mu? Tidak memberi kabar. Seperti tidak mempedulikan mu. Masihkah kau ingin mengatakan aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Masihkan aku serendah itu dimata mu? Coba perhatikan sayang, perhatikan baik-baik semua ini. Mengapa aku menjauh saat ini?
Tidakkah kau sadar juga betapa banyak kata-kata yang kau lontarkan itu menusuk hati ku? Bukan aku mengambil hati semua perkataan mu. Hanya saja itu tidak pantas untuk kau lontarkan kepada ku, kepada siapapun itu.
Aku tidak menyayangi mu lagi? Tidak mempedulikan mu lagi? Hey… Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa besar rasa di hati ini. Boleh kau tanyakan pada Tuhan betapa peduli ini sangat nyata pada mu. Ingat ketika kau menolak bantuan yang pernah aku berikan? Ingat ketika kau tidak menjalankan apa yang telah aku beritahu informasinya? Bukan maksud ku untuk selalu ingin diikuti perkataannya. Tapi, itu untuk kebaikan mu sendiri. Untuk mu sayang.
Apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Mengapa terasa begitu rendahnnya aku dimata mu? Dengan kata-kata mu, perlakuan mu sekarang ini. Dimana lagi kata manis dan hal-hal indah yang biasa kita lakukan? Apakah semuanya sekarang telah berubah? Apa semuanya telah berubah karena tertutupi oleh gengsi, rasa egois, amarah, serta kebencian? Tidak dapatkah semuanya merendah? Tidak harus sama seperti dulu sayang. Namun lebih merendah. Sedikit demi sedikit. Merendahkan hati kita masing-masing. Bukan untuk beradu keegoisan seperti sekarang.
Jika boleh, aku ingin mengutip catatan teman ku di facebook.
Seperti ini, “Menghindari dirimu adalah cara terbaik sekaligus menyakitkan. Namun, peduli pada dirimu hanya mendapat pengabaian. Aku ada dibelakangmu.. Selalu.. Namun, aku berusaha untuk mundur. Selangkah demi selangkah setiap kau tidak melihat. Mundur, terus mundur. Sampai akhirnya, aku tidak terlihat lagi….”
Mungkin tidak bisa kau rasakan hati ku. Betapa sedang tersiksanya hati ini, batin ini, pikiran ini, atas kata-kata mu, perlakuan mu, serta pengabaian mu. Entahlah sayang, mungkin kau lupa bahwa kita pernah memiliki masa-masa indah. Bahwa, sebenarnya kita saling mencinta, saling menginginkan….

Sudahlah… Ini titik terakhir untuk ku. Apapun yang aku lakukan, semuanya sudah salah dimata mu. Sudah tidak ada baiknya lagi menurut mu. Semuanya percuma.

Aku tau ada banyak cinta untuk ku. Ada rindu yang terselip ditengah kemarahan mu. “Aku yang paling kau cinta, aku yang paling kau mau. Rahasiakan aku sedalam-dalamnya cintamu..”.
Maaf, aku harus mundur sayang,“Akan ada fase dimana yang paling sabar menjadi muak, yang paling peduli menjadi masa bodo, yang paling setia menjadi pergi. Ketika sabar, peduli dan setianya tidak kau hargai.” menyembuhkan segala luka ini.
Maaf, tak pernah terlintas dibenak ku untuk sakiti cinta mu. Maafkan aku, aku tahu ini sakit untukmu. Namun aku pun begitu. Sakit.





#Sayang, ada hal yang harus kau garis bawahi. Ada hal yang harus tau tau dan kau yakini. Bahwa…. Meskipun aku memutuskan untuk beranjak pergi, tapi bukan berarti tak ada lagi cinta untuk mu. Cinta ini masih ada. Begitupun dengan peduli ini. Dan jangan kau khawatirkan, rindu ini juga. Ya. Masih untuk mu sayang… *kecupkening

Tidak Saling Mengenal

Malam ini. 16 Maret 2014. Pukul 22.27 WIB.
Entah ada apa dengan malam ini. Namun rasanya malam ini dada ku kembali sesak seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini berbeda sayang. Kali ini diiringi dengan ingatan. Aku mengingatnya dari awal, bagaimana skenario Tuhan mempertemukan kita. Aku ingat itu sungguh manis, penuh dengan rasa malu tersipu. Kau taukan sayang, bagaimana lucunya perkenalan kita dulu? Bagaimana kamu diam-diam memperhatikan aku? Berusaha untuk mendapatkan perhatian dari ku. Ingat? Iya. Tentu kau masih mengingatnya.
Namun dari semua itu yang paling utama adalah bagimana kau berusaha meraih hati ku, cinta ku. Kau tidak tau pasti bagaimana hati ini terpukau oleh mu. Bagaimana hati ini berubah dari ketakutan akan kehilangan, menjadi berani menaruh kepercayaan. Kau ubah semua ketakutan ku menjadi kebahagiaan. Hati yang sebelumnya tersiksa oleh kepergiaan seseorang. Kau mengubahnya sayang. Perlahan namun pasti. Semua hal yang kita lalui. Semua percakapan kita. Perhatian kecil mu. Ungkapan rasa sayang mu. Perlahan namun pasti mengubah hati ku. Perlahan namun pasti hati ini merapatkan kapalnya ke dermaga mu. Bukan untuk singgah sesat. Tapi untuk tinggal.
Semua nyaman. Tenang bahagia. Lebih seperti berada di konser musik band ternama. Lebih seperti berada di dunia fantasi yang penuh dengan gelak tawa lepas. Seperti tak ada beban. Seperti tak butuh siapapun lagi. Dan, aku tak pernah seyakin ini. Entah apa namanya, bahagia sekali. Mungkin tingkatan rasa ini diatas yang namanya cinta.
Tapi tunggu sayang. Perlahan namun pasti semuanya tak hanya soal kebahagiaan. Ada pertengkaran yang terselip. Mulai ada rasa marah. Mulai terlihat rasa egois. Mulai terlihat rasa ingin lebih dimengerti. Ya. Semakin berjalannya waktu, banyak air mata yang terjatuh. Sering kepala ini pusing karena masalah sepele yang berubah menjadi teka-teki silang atau pazel, menjadi permainan yang tingkat levelnya semakin sulit.
Semakin kesini, kau semakin mempertanyakan cinta ku. Semakin meragukan kesetiaan ku. Seperti kau baru satu minggu mengenal ku. Seperti kau lupa bahwa aku memang sesederhana itu. Mungkin kau lupa sayang. Ya, mungkin..
Jika digambarkan dari nol persen sampai seratus persen. Maka seperti itulah cinta ku. Dari nol persen, sampai penuh seratu persen. Atau mungkin seribu persen. Seratus ribu persen. Entahlah. Namun kau yang mampu membuat cinta ini menjadi sebanyak itu.
Jangan kau mengelak sayang. Memang karena kau aku bisa mencinta sampai seperti ini. Memang karena kau hati ku bisa sampai seperti ini. Karena kau sayang, karena kau. Karena kau aku kembali harus merasakan takut kehilangan. Karena kau aku kembali harus merasakan sakit hati. Bahkan berkali-kali. Namun kau tidak sadar sayang. Hati ini memaafkan, berkali-kali. Yang menurut orang tak mungkin bisa dimaafkan, tapi hati ini melalukannya sayang. Hati ini memaafkan. Itu karena kamu. Karena cinta ini kamu. Karena hati ini terpatri kesetiaan pada mu.

Untuk kesekian kalinya hati ini terjatuh begitu sakitnya. Entah sayang.. Begitu sakit luka yang kau toreh. Kau mungkin tidak merasakannya. Betapa tersiksanya aku atas cinta yang aku miliki sekarang. Betapa tersiksanya aku ketika dulu kau terbangkan aku kelangit tinggi, kau bawa aku ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan, gelat tawa serta canda, mimpi, harapan, cita-cita. Namun kini kau buang begitu saja. Kau campakan, tidak membutuhkan aku lagi. Aku? Tidak ada manfaat lagi bagi mu. Iya. Kau hempaskan aku sekarang. Tidak peduli bagaimana keadaan ku, bagaimana hati ku. Sehina itukah aku dimata mu sekarang? Aku hadir bukan untuk apa yang kau harapkan sekarang. Harapan mu kepada ku telah berubah. Seperti alat yang harus membuat mu menjadi lebih mudah dalam segala hal. Aku bukan untk itu sayang. Apa kau lupa alasan dulu kau mengharapkan ku? Aku bukan untuk itu sayang. Bukan.

Aaahh.. Kau tidak akan tau pasti bagaimana remuknya perasaan ku malam ini. Hancur. Entah apalah namanya. Tapi rasanya membuat ku ingin berteriak sekencang mungkin. Membuat ku ingin menghilang. Pergi ke planet di luar angkasa atau bahkan lenyap ditelan bumi. Mengasingkan diri dari rasa yang bernama cinta.

Kau tidak sadar apa yang telah kau buat pada hati ku sampai seperti ini.. Serapuh ini hati ku sekarang. Sudah tidak ada peduli mu lagi. Aahhh sudahlah.. Biar aku nikmati sendiri perasaan yang tersiksa ini. Lagipula kau tidak akan mencari ku...



#Jika boleh aku berharap sayang. Dapatkah Tuhan mengembalikan semuanya seperti dulu. Bukan. Saat aku dan kamu tidak saling mengenal.......