Aku kira kita sudah berhasil untuk
menjadi baik-baik saja.
Kamu
pernah menjadi bagian dari setiap hariku, pernah menjadi alasan untuk aku
tersenyum dan bahagia. Dan aku juga yakin, kamupun juga begitu terhadap ku.
Satu
tahunpun belum. Tapi semua sudah terasa seperti bertahun-tahun. Semakin hari,
waktu menujukan bahwa kita memang tak sama. Kebahagiaan yang dulu menggebu tak
lagi terasa.
Pertengkaran demi pertengkarang
terjadi. Aku tidak ingin menyalahkan atau membenarkan. Ini yang aku lakukan. Aku
hanya selalu berusaha mengalah, tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang
benar. Tidak peduli siapa yang harus meminta maaf terlebih dahulu. Aku
mengalah, aku mengiyakan. Aku memilih untuk tidak membesarkan masalah dan tidak
ingin membuat mu semakin marah. Aku memilih untuk memperbaiki diri ku, walau
pada akhirnya tetap saja aku tidak berhasil. Perbaikan itu seperti tak ada
gunanya, karena aku selalu dan selalu kembali menjadi pribadi yang menyebalkan
di mata mu. Taukah kamu? Aku hanya bisa meminta maaf. Mungkin kamu sudah
kenyang dengan segala kata maaf yang aku lontarkan. Tapi entahlah, aku memang
tidak pernah bisa menjadi yang tidak menyebalkan untuk mu.
Dan taukah kamu, aku punya perasaan
bersalah karena tidak pernah bisa memperbaiki diri ku. Bukan karena perbaikan
ini untuk mu. Tapi entahlah, semua ini benar-benar menghasilkan rasa bersalah
yang mengganggu pikir ku yang tak pernah bisa aku tebus.
Ketika kamu berpikir, tidak ada
kesetiaan dalam diri ku. Taukah kamu? Rasanya menyakitkan jika kehadiran ku baik
dalam tatapan mu atau tidak, tidak pernah kamu anggap. Kamu memang tidak pernah
memintanya. Tapi harus kamu pelajari, itulah aku. Aku berusaha untuk
membahagiakan mu dengan cara ku sendiri, namun nampaknya usaha ku tak begitu
terlihat di mata mu.
Ketika
kamu berkhianat, ketika ada seseorang yang berusaha meraih mu. Aku hanya
mencoba bersabar dan meredam rasa cemburu ku. Namun pertanyaannya, apakah kamu
bisa merasakan perasaan ku saat itu? Aku
mengabaikannya karena aku berusaha percaya, kamu tidak begitu. Bahkan
ketika pengkhianatan itu benar terjadi, aku yakin kamu tidak begitu. Itu adalah
salah ku, seperti yang kamu bilang.
Kebahagiaan yang aku hanya ingin
berbaginya. Apapun yang aku berikan, aku tidak pernah ingin suatu hari kamu
mengembalikannya kepadaku.
Bahkan
yang namanya pengorbanan. Semua itu aku lakukan karena aku suka melakukannya.
Bukan karena kamu “siapa”nya aku.
Aku tidak tau, apakah setiap
perjalanan harus ada ujung dan akhir?
Mungkin
kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Namun tidak dengan ku. Dari awal
aku memang tidak akan pernah menjadi sosok yang kamu inginkan, kamu harapkan
dan kamu impikan. Bahkan ketika kamu pernah mengharapkan ku, nyatanya aku
memang tidak bisa seperti itu.
Kini, jika kamu ingin mematikan
perasaan ku. Maaf, mungkin harusnya
sudah lama perasan ku mati. Tapi sekali lagi, aku berbeda. Hancurkanlah aku
sebisa yang kamu mau. Karena aku selalu punya satu ronde lagi untuk mu. Aku
selalu memberikannya ketika orang lain menganggap bahwa sudah tidak ada lagi
yang harus diberi kesempatan.
Bahkan
untuk kali ini. Kamu tak taukan apa yang sedang aku lakukan sekarang? Jadi,
janganlah kamu berusaha mematikan perasaan ku hanya demi menurut mu itu adalah
untuk kebaikan ku.
Yakinlah, aku tidak sehina yang kamu
pikirkan. Aku tidak sehina “mereka”, aku yakin kamupun tau bagaimana berbedanya
aku dengan mereka.
Yakinlah, aku melakukan perbaikan dan aku melakukannya bukan karena mu. Karena aku percaya, Tuhan tidak akan menjadikan kamu berlalu begitu saja. Dan karena ini bukanlah akhir yang aku inginkan.
Yakinlah, aku melakukan perbaikan dan aku melakukannya bukan karena mu. Karena aku percaya, Tuhan tidak akan menjadikan kamu berlalu begitu saja. Dan karena ini bukanlah akhir yang aku inginkan.
Perasaan
ku? Tak usah kamu khawatir. Dari awal aku sudah tau ini semua akan berakhir,
aku tak pernah mengharapkan lebih seperti yang kamu takutkan dan kamu
khawatirkan. Aku yang tau akan perasaan ku. Sebanyak apapun aku menjelaskan
perasaan ku lewat kata-kata, bagaimanpun aku menyusunnya untuk menjadi kalimat
yang bisa kamu pahami. Tetap saja, kamu tidak akan mengerti apa yang aku
rasakan. Yang kamu tau, ya apa yang kamu lihat dari ku.
Seandainya saja kamu bisa merendah
sedikit, mungkin kamu bisa membaca perasaan ku dan mengetahui isi otak ku.
Mungkin kamu bisa mengetahui bahwa aku berjuang terhadap apa yang sebenarnya
sudah aku lampaui batasnya…
Aku ganti semua perasaan sakit hati mu
karena pernah terluka oleh ku. Aku ganti semua itu dengan perasaan bersalah ku.
Taukah kamu? Itu adalah hukuman terberat daripada hukaman mati dan hukuman
badan seumur hidup.
Satu
hal lagi, kamu ingin aku tetap ada di hidup mu atau tidak?