“ Tuhan tolonglah aku,
kembalikan dia kedalam peluk ku karena ku tak bisa mengganti dirinya. Ku
akui jujur aku tak sanggup, sungguh aku tak bisa…. ”
Sayang..Andai saat ini kau disini. Tepat disamping ku. Aku ingin sekali bersandar dipundak mu. Ya. Seperti biasa. Melepas penat di hati ku. Aku ingin menceritakan kepada mu sayang betapa beberapa hari belakang ini terasa cukup berat, cukupsulit aku rasa.
Jika kau melihat ke dalam mata ku, melihat bagaimana hati ku saat ini. Apakah ini juga yang kau rasakan sayang? Lalu apakah kau berdoa, meminta hal yang sama seperti apa yang aku minta pada Tuhan?
Tak ada satu hari pun otak ini berhenti mengulang ingatan-ingatan indah itu. Tak ada satu hari pun hati ini terasa remuk, seperti diremas. Pagi selalu mengingatkanku bahwa aku selalu memberi sapaan dan semangat. Siang pun begitu. Mengingatkanku bahwa aku pernah mengingatkan waktu zuhur dan jam makan siang telah tiba.Tak terlewat malam sayang. Malam pun lebih tega. Betapa gelapnya malam selalu hangat dengan kalimat pengantar tidur. Tapi itu dulu sayang, sebelum beberapa hari belakangan ini.
Sayang… Begitu beratnya yang aku rasakan, sampai terkadang air mata ini terjatuh dengan sendirinya. Ya. Ditengah kesendirian yang aku rasa. Terkadang hal ini sungguh menyesakan dada ku sayang. Tiba-tiba air mata ini menetes, bersamaan denganingatan indah itu. Sejenak waktu terasa berhenti. Apakah ini? Aahh… Aku kembali merindu.
Entah peran apa yang saat ini sedang kita perankan sayang. Cerita apa yang selanjutnya akan terjadi? Aku tak mengerti. Mengapa kita diliputi dengan rasa gengsi?
Aku tak sanggup, tak bisa… Apa itu juga yang kau rasakan? Rasanya ingin menangis darah. Merobek jiwa yang berkecamuk. Rasanya ingin menghilang, lenyap tanpa kabar. Seberat itu yang terasa. Lebay? Tidak sayang. Ini yang aku rasakan. Memang tak bisa sama persis dengan apa yang kau rasakan. Tapi aku yakin. Disana kau juga merasakan hal yang sama.
Hanya saja saat ini kita sedang berbohong pada dunia. Kita sedang menunjukan apa yang dunia ingin lihat.
Aku bisa menggambarkan bagaimana indahnya diri mu, bagaimana indahnya rasa cinta dengan banyak rangkaian kata. Tapi tidak untuk kali ini sayang. Aku mati kata. Tak dapat banyak yang bisa aku gambarkan bagaimana hati ini tersiksa. Bagaimana malam menyiksa ku dengan ingatan-ingatakan akan mu. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana remuknya hati ku saat ini.
Tak ada satu hari pun tanpa berharap, cinta ini akan bisa lebih baik lagi…
Bahkan terselip harapan yang mungkin buat orang lain sudah tidak pantas aku harapkan lagi.
Aku rindu sayang.
Peluklah tubuh yang lemah ini. Biarkanlah kepala ini bersandar dengan segala kepenatan didalamnya. Usaplah setiap kegelisahan di hati ini dengan sentuhan lembut dipipiku…
Sayang..Andai saat ini kau disini. Tepat disamping ku. Aku ingin sekali bersandar dipundak mu. Ya. Seperti biasa. Melepas penat di hati ku. Aku ingin menceritakan kepada mu sayang betapa beberapa hari belakang ini terasa cukup berat, cukupsulit aku rasa.
Jika kau melihat ke dalam mata ku, melihat bagaimana hati ku saat ini. Apakah ini juga yang kau rasakan sayang? Lalu apakah kau berdoa, meminta hal yang sama seperti apa yang aku minta pada Tuhan?
Tak ada satu hari pun otak ini berhenti mengulang ingatan-ingatan indah itu. Tak ada satu hari pun hati ini terasa remuk, seperti diremas. Pagi selalu mengingatkanku bahwa aku selalu memberi sapaan dan semangat. Siang pun begitu. Mengingatkanku bahwa aku pernah mengingatkan waktu zuhur dan jam makan siang telah tiba.Tak terlewat malam sayang. Malam pun lebih tega. Betapa gelapnya malam selalu hangat dengan kalimat pengantar tidur. Tapi itu dulu sayang, sebelum beberapa hari belakangan ini.
Sayang… Begitu beratnya yang aku rasakan, sampai terkadang air mata ini terjatuh dengan sendirinya. Ya. Ditengah kesendirian yang aku rasa. Terkadang hal ini sungguh menyesakan dada ku sayang. Tiba-tiba air mata ini menetes, bersamaan denganingatan indah itu. Sejenak waktu terasa berhenti. Apakah ini? Aahh… Aku kembali merindu.
Entah peran apa yang saat ini sedang kita perankan sayang. Cerita apa yang selanjutnya akan terjadi? Aku tak mengerti. Mengapa kita diliputi dengan rasa gengsi?
Aku tak sanggup, tak bisa… Apa itu juga yang kau rasakan? Rasanya ingin menangis darah. Merobek jiwa yang berkecamuk. Rasanya ingin menghilang, lenyap tanpa kabar. Seberat itu yang terasa. Lebay? Tidak sayang. Ini yang aku rasakan. Memang tak bisa sama persis dengan apa yang kau rasakan. Tapi aku yakin. Disana kau juga merasakan hal yang sama.
Hanya saja saat ini kita sedang berbohong pada dunia. Kita sedang menunjukan apa yang dunia ingin lihat.
Aku bisa menggambarkan bagaimana indahnya diri mu, bagaimana indahnya rasa cinta dengan banyak rangkaian kata. Tapi tidak untuk kali ini sayang. Aku mati kata. Tak dapat banyak yang bisa aku gambarkan bagaimana hati ini tersiksa. Bagaimana malam menyiksa ku dengan ingatan-ingatakan akan mu. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana remuknya hati ku saat ini.
Tak ada satu hari pun tanpa berharap, cinta ini akan bisa lebih baik lagi…
Bahkan terselip harapan yang mungkin buat orang lain sudah tidak pantas aku harapkan lagi.
Aku rindu sayang.
Peluklah tubuh yang lemah ini. Biarkanlah kepala ini bersandar dengan segala kepenatan didalamnya. Usaplah setiap kegelisahan di hati ini dengan sentuhan lembut dipipiku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar