Aku ingin berubah. Aku ingin meninggalkan kehidupan gelap ini.
Aku tidak menemukan apapun yang dapat menguntungkan ku dalam dunia gelap ini. Yang aku temukan hanyalah cinta yang besar, angan yang menjunjung tinggi tanpa kejelasana yang pasti. Aku tidak menemukan ujung dari perjalanan cinta ini. Aku tidak menemukan titik dimana sebuah pernikahan seharusnya.
Aku hanya kehilangan seseorang yang pernah begitu aku cintai dan begitu aku perjuangkan. Namun entah mengapa rasanya seperti aku kehilangan segalanya. Ya, mungkin karena segalanya telah aku coba berikan untuk dia. Tapi dia pergi. Aku salah mencintai dan memperjuangkan. Ini adalah pelajaran yang sangat amat berharga untuk ku. Tapi aku belum bisa bangkit seutuhnya. Aku belum bisa bangkit sekuat itu dengan semangat yang membara. Aku masih tersungkur dipojok sisi gelap, meratapi kepergiannya. Meratapi penyesalan karena telah melakukan segalanya untuk orang yang tidak pernah segalanya untuk ku. Aku menyesal Tuhan. Ya, hanya itu yang selalu keluar dari mulut ku sekarang. Aku tidak yakin apa itu benar-benar penyesalan atau hanya sebatas kekecewaan ku terhadap kenyataan ini. Entahlah.
Aku menjadi sangat rajin sesaat untuk beribadah, Entah apa yang sebenarnya aku cari. Entah apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku ingin sekali kenyataan ini cepat berlalu terhapus oleh sang waktu. Namun nyatanya waktu berjalan dengan lambat. Aku masih bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya, Bagaimana kecewanya. Aku masih bisa merasakan secara rinci. Tidak tau sampai kapan waktu bisa menghapusnya dan membiarkan aku hidup dalam kebebasan bernapas.
Sisi lain aku berharap dia kembali dengan membawa penyesalan karena sudah memperlakukan aku seperti itu. Ya, sisi lain aku masih mengharapkan dia yang telah menyakiti, membohongi dan mengkhianati ku.
Aku hanya ingin dia menangis didepan ku seraya meminta maaf kepada ku. Aku hanya ingin itu. Tidak hampir satu bulan adalah hari ulang tahun ku. Ada perasaan berharap dia datang dengan air mata dan ada perasaan berharap dia tidak akan pernah datang, ya tidak pernah datang lagi dihidup ku. Tapi tak dipungkiri rasanya aku terlalu berharap dia akan datang. Entahlah, ini menjadi kado terpait untuk ku. Ini sangat pait yang aku terima sampai hitungan detik ini.
Disisi lain aku terus berbicara pada diri ku sendiri. Aku bersyukur, aku berterima kasih kepada Tuhan. Tapi ada harapan kecil yang menginginkan dia kembali. Entahlah, aku merasa ada ikatan yang tidak dapat aku putus meski sudah berkalikali dia menyakiti ku, bahkan ini yang terakhir dia begitu teganya menyakiti ku tapi aku masih ingin berbaik hati kepadanya.
Mungkin aku bodoh atau apalah.
Aku sadar, Tuhan tidak pernah mentakdirkan hal yang Dia laknat. Tidak mungkin dia menakdirkan hal sekeji itu untuk hambaNya. Jika untuk pelajaran, bukankah dahulunya Tuhan sudah tunjukan. Ini hanya napsu ku saja. Aku yang tidak bisa mengendalikan hawa napsu ku untuk urusan dunia.
Selama ini yang aku sadari adalah Tuhan menakdirkan kita saling mencintai. Tapi aku salah, Dan sudah ku terima kepahitan dari kesalahan ku itu.
Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Dengan atau tanpa dia. Aku harus kembali bersinar, mengembalikan segala kebaikan yang telah hilang akibat kebersamaan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar